SANGATTA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memfungsikan Galeri Budaya sebagai Pusat Informasi Geopark Sangkulirang Mangkalihat sekaligus rintisan museum daerah demi menjaga warisan Arkeologi.
Kepala Bidang Kebudayaan (Kabid) Disdikbud Kabupaten Kutim, Ilham, menjelaskan posisi kebudayaan dalam pengelolaan kawasan Karst sangat strategis karena memiliki fasilitas penampung artefak hasil penelitian sejarah sejak bertahun-tahun lalu.
“Galeri budaya ini sebenarnya semacam museum kecil yang kami posisikan sebagai pusat informasi Geopark Sangkulirang Mangkalihat, di mana seluruh data dan benda di dalamnya berasal dari hasil riset para ahli,” ujarnya, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (14/09/2026).
Ia menyebutkan, berbagai penemuan penting seperti gerabah kuno, fosil tulang diduga cagar budaya, hingga dokumentasi visual lukisan telapak tangan berusia sekitar 40.000 tahun disajikan di galeri tersebut.
“Sebelum peneliti atau wisatawan minat khusus masuk ke lokasi riil Sangkulirang Mangkalihat yang medannya cukup jauh, mereka bisa datang ke sini dulu untuk melihat gambaran utuhnya,” jelasnya.
Guna menyiasati keterbatasan akses fisik dan infrastruktur menuju kawasan Karst, Ilham mengungkapkan bahwa pihaknya kini berinovasi dengan mengembangkan platform konten digital sejarah lokal bagi generasi muda.
“Akses ke sana memang jauh, makanya kami berusaha mendekatkan informasi Geopark melalui media digital konten agar anak-anak sekolah bisa berimajinasi dan mengenal situs sejarah tanpa harus langsung ke lokasi,” ungkap Ilham.
Selain penguatan galeri, pihaknya juga tengah bersiap menaikkan status rintisan tersebut menjadi museum daerah yang lebih representatif untuk menampung ragam budaya Kutim.
“Harapan Bapak Bupati dan kita semua, galeri arkeologi ini akan ditingkatkan menjadi museum resmi. Tahun ini rencananya kita mulai melakukan pematangan lahan di kawasan Jalan Soekarno-Hatta,” pungkasnya.(Dh/Az/Adv).
![]()


Tinggalkan Balasan