SANGATTA — Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Timur (Kutim) Jimmi tekankan pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah daerah (Pemda) dalam menghadapi krisis iklim El Nino yang dampaknya kian dirasakan oleh warga. Hal tersebut disampaikan saat menghadiri peringatan Maulid Nabi 1448 H di kediaman Ketua DPD Kerukunan Masyarakat Bulukumba (KMB), Gang Santai RT 28, Sangatta Utara, Minggu (13/09/2026).

Dalam sambutannya, Jimmi menjelaskan bahwa fenomena El Nino yang melanda saat ini telah memicu penurunan debit air sungai secara signifikan. Kondisi debit air yang surut tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas pelayaran warga, tetapi juga mulai mengancam ketersediaan air bersih diberbagai wilayah. Selain itu, iamengungkapkan keprihatinannya atas potensi masuknya air asin ke intake pengolahan air minum milik PDAM di Kabo.

“Jika pasokan utama tersebut terganggu akibat intrusi air laut, pemerintah daerah terpaksa mengandalkan alternatif air baku dari kolam bekas tambang KPC untuk memenuhi kebutuhan warga,” tuturnya.

Guna mengatasi ancaman kekeringan tersebut, teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan dinilai sulit diterapkan secara mandiri. Selain membutuhkan penguasaan teknologi yang rumit, proses pembuatan hujan buatan memerlukan biaya yang sangat besar hingga mencapai puluhan miliar rupiah.
Oleh karena itu, langkah spiritual menjadi tumpuan utama yang paling memungkinkan bagi masyarakat Indonesia.

Pemerintah daerah bersama jajaran Musyawarah Pimpinan Daerah (muspida) dan elemen masyarakat sebelumnya telah menggelar shalat istisqa di kawasan Bukit Pelangi sebagai bentuk ikhtiar memohon diturunkannya hujan.
Hasil dari doa bersama tersebut mulai membuah hasil bagi sebagian wilayah Sangatta.

“Meski kawasan pusat pemerintahan di Bukit Pelangi belum diguyur hujan, wilayah Sangatta Utara bagian bawah dan Sangatta Selatan sudah mendapatkan guyuran hujan yang lumayan deras beberapa jam setelah pelaksanaan shalat,” bebernya.

Jimmi menegaskan bahwa fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya hubungan yang harmonis antara pemimpin dan masyarakat dalam memohon pertolongan Tuhan. Melalui momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, ia mengajak seluruh hadirin untuk meneladani akhlak Rasulullah. Semangat kebersamaan dan kesadaran spiritual diharapkan dapat terus dijaga agar daerah selalu mendapatkan rahmat dan terbebas dari ancaman krisis air bersih.

“Selesai shalat, memang 2 atau 3 jam kemudian hujan turun. Ini menggambarkan bahwa sekali lagi hubungan antara pemerintah dan rakyatnya di sisi Allah itu sangat penting, karena itu menggambarkan bagaimana Allah merahmati suatu kaum,” pungkasnya.

Loading