Sangatta – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperkuat kurikulum Muatan Lokal dan melatih guru seni-bahasa daerah demi menahan gempuran budaya asing bagi generasi muda.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham, menjelaskan bahwa penerapan kurikulum Muatan Lokal (Mulok) merupakan instrumen strategis untuk mentransfer nilai leluhur serta membendung ancaman tradisi yang kian tergerus tren global.
“Bahasa daerah dan tradisi adalah pilar utama karakter bangsa. Melalui kurikulum muatan lokal, kita ingin memastikan anak-anak tidak hanya mahir mengikuti budaya modern, tetapi juga paham warisan leluhurnya,” ujarnya, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin(14/09/2026).
Ia menyebutkan, Disdikbud Kutim telah mendistribusikan buku panduan Mulok secara mandiri untuk SD hingga SMP yang mencakup Bahasa Kutai, Seni Budaya, dan Pengetahuan Sumber Daya Alam khas Kaltim.
“Materi kita lengkap, dari pengenalan teater Mamanda, musik Sampe, seni Tarsul, sampai edukasi vegetasi hutan daerah seperti kayu Ulin dan Pasak Bumi,” jelasnya.
Namun, Ilham mengakui efektivitas pembelajaran di kelas masih terkendala oleh minimnya tenaga pengajar yang fasih berbahasa serta menguasai seni daerah secara mendalam.
“Kendala kita ada di tenaga pengajar. Kurikulumnya Bahasa Kutai, tetapi yang mengajar dari latar belakang suku lain, sehingga tutur bahasanya jadi agak terbata-bata,” ungkap Ilham.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, pihaknya terus menggalakkan program pelatihan dan pembekalan teknis khusus bagi para guru pengampu Mulok di sekolah.
“Karena itu, kami di bidang kebudayaan getol melatih guru-guru agar lebih mahir mengajarkan bahasa serta seni lokal, supaya kinerjanya lebih maksimal dan anak-anak bisa paham budaya daerahnya sendiri,” pungkasnya.(Dh/Az/Adv).
![]()


Tinggalkan Balasan