SANGATTA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menggelar Workshop Storytelling dan Digitalisasi Content Sejarah Lokal. Rabu (09/09/2026)

Kegiatan yang akan berlangsung selama tanggal 09-11 September 2026 tersebut di ikuti oleh 15 pelajar jenjang SMA, SMK dan MA yang berasal dari perwakilan sekolah di wilayah Kecamatan Sangatta Utara, Sangatta Selatan hingga Kecamatan Sangkulirang.

Wakil Bupati (Wabup) Kutim Mahyunadi menyampaikan, pemahaman sejarah yang valid dan lurus bagi para generasi muda di daerah sangat penting mereka ketahui. Menurutnya, bahwa dokumentasi sejarah lokal sering kali rentan dibengkokkan jika tidak dikawal dengan bukti dan penulisan yang benar. Oleh sebab itu, peran generasi muda dinilai sangat strategis untuk mengarsip rekam jejak daerah secara akurat.

“Saya berharap generasi muda kita dapat meluruskan sejarah Kutim berdasarkan fakta yang benar, lalu dituangkan ke dalam bentuk buku atau karya digital yang bisa diakses publik,” ujarnya.

Dalam momen tersebut, Orang nomor dua di Pemkab Kutim itu menjelaskan kilas balik dinamika  pembentukan dan berdirinya Kabupaten Kutai Timur berdasarkan Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999. Melalui kesempatan  itu, Dirinya mengingatkan para pelajar agar tidak melupakan peristiwa serta jasa para tokoh pendiri daerah.

“Pelajari dan wariskan sejarah pendahulu, agar tetap dikenang dari generasi ke generasi selanjutnya,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim Ilham, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melatih para siswa dalam melakukan riset lapangan, teknik wawancara dengan tokoh-tokoh sepuh, hingga pengolahan data menjadi karya yang menarik.

Dalam kegiatan itu, Ilham menyampaika bahwa pihaknya menghadirkan narasumber profesional dari media Kaltim Today Alisa Deliana untuk membekali para siswa dengan keterampilan teknis penulisan, penceritaan (storytelling), serta strategi pengemasan konten sejarah di platform digital.

“Kita berharap, 15 peserta yang mengikuti workshop ini dapat menjadi pionir bagi pelajar lainnya dalam merawat warisan sejarah daerah,”pungkasnya.

Loading