Sangatta – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim) terus berupaya mengoptimalkan pengenalan budaya daerah bagi generasi muda, meski di tengah keterbatasan anggaran akibat efisiensi daerah.

 

Kepala Seksi (KASI) Cagar Budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Kutim, David Hernanda, menjelaskan bahwa pelibatan generasi muda dan pelajar sejatinya menjadi prioritas utama agar nilai-nilai tradisi lokal tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

 

“Berbagai ruang ekspresi seni bagi siswa sekolah dasar hingga menengah sebelumnya telah kita rancang secara berkala, itupun juga sudah berjalan,” ujarnya, usai ditemui awak media di ruang kerjanya, Selasa (08/09/2026).

 

Ia mengungkapkan, pada tahun 2025 pihaknya sempat menyelenggarakan Pesta Seni (Pensi) yang menjangkau anak-anak sekolah di tingkat kecamatan. Program tersebut dinilai sangat efektif karena berinteraksi langsung dengan para pelajar dan masyarakat.

 

“Harapan ke depannya program pesta seni di sekolah-sekolah dan tingkat kecamatan ini bisa diadakan kembali. Karena pesertanya anak-anak sekolah, dampaknya jauh lebih terasa dan langsung kena ke sasaran,” tambahnya.

 

Meski demikian, keterbatasan anggaran akibat efisiensi pada tahun ini membuat sejumlah agenda Pensi di tingkat kecamatan harus tertunda sementara. Pihak dinas kini memfokuskan alokasi anggaran pada program prioritas festival kebudayaan daerah.

 

“Fokus kita juga mengoptimalkan wadah ajang bakat pelajar yang sudah berjalan, seperti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) untuk anak-anak kita,” jelasnya.

 

Dalam menjaga kelangsungan interaksi budaya. Disdikbud Kutim tetap menjalin komunikasi dan sosialisasi dengan berbagai organisasi serta lembaga adat daerah.

 

“Agar budaya kita tidak mati di kalangan pemuda dan dan mempertahankan nilai budaya, kita memang sering berbaur dengan komunitas-komunitas yang ada di Kutim,” pungkasnya.(Dh/Az/Adv).

Loading