SANGATTA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan sejumlah tenaga kesehatan di berbagai fasilitas pelayanan. Beberapa profesi kesehatan tertentu masih tergolong langka sehingga pemenuhannya membutuhkan dukungan melalui berbagai skema.

Kepala Dinkes Kutim, Yuana, mengatakan kebutuhan tenaga kesehatan menjadi salah satu persoalan yang masih harus diperhatikan pemerintah daerah. Terutama untuk tenaga dengan keahlian khusus yang jumlahnya terbatas.

“Untuk tenaga kesehatan yang lain ini memang masih ada yang susah mencarinya. Misalnya tenaga elektromedik, kemudian tenaga analis, radiografer, itu juga masih langka dan masih kurang, ujar Yuana saat diwawancarai melalui telepon, Minggu (04/10/2026).

Menurutnya, keterbatasan kemampuan keuangan sejumlah BLUD menjadi salah satu kendala dalam merekrut tenaga kesehatan tertentu. Kondisi tersebut terutama dirasakan fasilitas kesehatan yang masih berkembang sehingga pendapatannya belum cukup untuk memenuhi standar pembiayaan tenaga profesional.

Yuana menjelaskan, kebutuhan tenaga kesehatan tersebut sebenarnya telah dipetakan oleh Dinkes Kutim. Pengajuan pemenuhan SDM juga telah disampaikan kepada pihak terkait, termasuk melalui jalur penerimaan aparatur negara.

“Yang jelas kami sudah mengajukan permohonan. Mudah-mudahan nanti ada kuota pada saat ada tes CASN maupun P3K, bisa disubmit dari situ. Jadi kebutuhan tenaga yang masih kurang ini sudah kita petakan dan kita usulkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing fasilitas kesehatan,” katanya.

Ia menuturkan, persoalan SDM tidak hanya terjadi pada satu jenis fasilitas kesehatan. Rumah sakit maupun unit pelayanan yang berada di daerah pedalaman juga membutuhkan dukungan tenaga kesehatan agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan secara optimal.

Selain keterbatasan jumlah tenaga, faktor pembiayaan turut menjadi perhatian. Menurut Yuana, tenaga kesehatan dengan kompetensi tertentu memiliki standar penghasilan yang perlu diperhitungkan ketika fasilitas kesehatan melakukan perekrutan secara mandiri melalui skema BLUD.

“Ini menjadi kendala juga untuk pemenuhan tenaga-tenaga tersebut. Karena tenaga yang kita butuhkan itu memang tenaga yang langka, sehingga kalau kita menggunakan kemampuan BLUD sendiri harus dihitung juga apakah mereka mampu memberikan gaji sesuai standar. Kalau belum mampu, tentu kita perlu mencari solusi melalui pengajuan kebutuhan tenaga dari pemerintah,” jelasnya.

Yuana mengatakan pemerintah daerah terus berupaya mencari jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satunya dengan memanfaatkan kesempatan penerimaan CASN maupun P3K apabila kuota tersedia.

Selain tenaga elektromedik, analis, dan radiografer, Dinkes Kutim juga terus melakukan pemetaan kebutuhan SDM kesehatan berdasarkan pelayanan yang tersedia di masing-masing wilayah. Hal tersebut dilakukan agar tenaga yang direkrut nantinya dapat ditempatkan sesuai kebutuhan.

“Kita terus berproses dan memaksimalkan tenaga yang ada sekarang. Sambil menunggu kesempatan untuk pemenuhan melalui CASN maupun P3K, kita juga melihat kebutuhan masing-masing rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Harapannya kebutuhan tenaga yang masih kurang itu bisa terpenuhi secara bertahap,” pungkasnya.(Dh/Az/Adv).

Loading