Kutim – Musim kemarau panjang serta dampak El Nino di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai memukul aktivitas ekonomi warga, khususnya pada bidang pertanian hingga usaha olahan pangan daerah.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Setkab Kutim, Noviari Noor, mengungkapkan bahwa penurunan curah hujan memicu hambatan di sektor agraris akibat kemerosotan volume panen warga.

“Kondisi sekarang ini, terutama akibat fenomena El Nino, membuat semua sektor mengalami sedikit perlambatan. Sektor pertanian di lapangan terdampak tingkat kekeringan sehingga mengurangi tingkat produksi, tidak optimal seperti kondisi normal,” ujarnya, saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.

Selain area pertanaman, ia menegaskan ancaman kekeringan turut menekan keberlanjutan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama pembuat tahu dan tempe. Minimnya pasokan serta penurunan mutu air baku menjadi hambatan mendasar pada tahap pembuatan.

Menurutnya, sebagian besar produsen selama ini bergantung pada pemurnian air mandiri. Akan tetapi, merosotnya permukaan air sungai maupun sumur membuat krisis pasokan tidak dapat dihindari.

“Yang saat ini cukup terdampak adalah produksi tahu dan tempe akibat kadar air yang menurun. Mereka membutuhkan air bersih yang cukup untuk proses pengolahannya, dan kondisi air yang surut membuat mereka kesulitan mendapatkan air bersih,” terangnya.

Menghadapi risiko lumpuhnya UMKM, Pemkab Kutim segera mengambil langkah taktis melalui pemetaan wilayah serta konsolidasi bersama Disperindag dan Diskop UMKM demi mengamankan ketersediaan air bersih.

“Dalam waktu, dekat saya akan segera berkoordinasi dengan Dinas Koperasi untuk merumuskan langkah penanganan, ketersediaan air bersih bagi para pengrajin tahu dan tempe ini bisa kembali teratasi,” pungkasnya.(Dh/AzAdv).

Loading