SANGATTA — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terapkan strategi tiga klaster pemantauan tumbuh kembang anak untuk menekan angka stunting di wilayah Kutim. Langkah itu difokuskan pada pengukuran anthropometri secara menyeluruh bagi seluruh bayi dan balita usia 0 hingga 5 tahun.
Kepala Dinkes Kutim dr. Yuwana Sri Kurniawati menjelaskan, bahwa pemantauan tersebut penting dilakukan guna mendeteksi secara dini potensi gangguan pertumbuhan pada anak. Melalui pendekatan terstruktur ini, pemerintah daerah (Pemda) mengaku optimistis mampu memetakan kondisi gizi anak-anak secara lebih presisi.
Lebih lanjut, Rendahnya tingkat partisipasi penimbangan balita di Posyandu menjadi alasan utama di balik peluncuran strategi baru ini. Saat ini, cakupan penimbangan di Kutai Timur, Menurutnya masih tergolong rendah sehingga membutuhkan terobosan yang mampu menjangkau lebih banyak anak secara efisien.
Selain itu, Kondisi tersebut, kata Yuwana berdampak langsung pada keakuratan data gizi anak di lapangan. Pendataan yang belum mencakup seluruh populasi balita berpotensi menampilkan gambaran prevalensi yang kurang mencerminkan kondisi sebenarnya di tengah masyarakat.
“Pertama, Posyandu dan jemput bola. Kedua, klaster pendidikan seperti PAUD dan TK lewat kerja sama dengan Dinas Pendidikan. Ketiga, klaster fasyankes, baik klinik, praktik mandiri, maupun rumah sakit,” kata Yuwana saat ditemui awak media, Senin (31/08/2026).
Melalui skema baru ini, Mantan Wakil Direktur Pelayanan RSUD Kudungga Sangatta itu menyampaikan. Setiap balita yang datang ke fasilitas kesehatan atau lembaga pendidikan anak usia dini akan langsung diperiksa secara menyeluruh. Petugas akan mencatat berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, hingga lingkar kepala sesuai standar operasional yang berlaku.
Pihaknya juga menekankan, masalah gizi buruk dan tumbuh kembang anak tidak dapat diselesaikan oleh dinas kesehatan saja. Penanganan yang efektif membutuhkan keterlibatan aktif dari berbagai dinas terkait, mulai dari perbaikan akses air bersih, sanitasi lingkungan, hingga edukasi pola asuh di tingkat keluarga.
“Seluruh data yang terkumpul dari ketiga klaster tersebut nantinya akan diintegrasikan secara berjenjang mulai dari e-Puskesmas hingga e-Dinkes. Sistem pendataan digital yang terhubung langsung ke pusat ini diharapkan memudahkan pemerintah dalam menyalurkan bantuan gizi secara cepat dan tepat sasaran,” pungkasnya. (Han/Az/Adv)
![]()


Tinggalkan Balasan