SANGATTA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) terus memacu transformasi ekonomi daerah dengan memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai tumpuan baru di luar industri ekstraktif. Langkah ini diambil untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat berbasis komoditas non-tambang yang dinilai memiliki potensi besar menembus pasar internasional.

Hal tersebut dibuktikan dalam Business Matching serta edukasi dan literasi keuangan Bima Etam seri ke-16 yang dibuka langsung Bupati Ardiansyah Sulaiman. Disaksikan Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan (Ekobang) Sekretariat Kabupaten Kutai Timur (Setkab Kutim), Noviari Noor dan jajaran pimpinan Bank Indonesia Perwakilan Kaltim, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta perwakilan perbankan daerah dan nasional. Ruang Meranti, Sekretariat Daerah, kawasan pemerintahan Sangatta, Senin (31/08/2026)

Dalam kesempatan itu, Bupati Ardiansyah menegaskan bahwa potensi kekayaan alam hayati Kutim perlu dikelola secara mandiri oleh warga lokal, agar roda perekonomian dapat berputar lebih merata. Menurutnya, ketergantungan pada sektor pertambangan batu bara yang selama ini menjadi penyumbang utama pendapatan daerah tidak cukup fleksibel dalam menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar.

“Kutim memiliki keunggulan komparatif yang hampir tidak ada di daerah lain. Oleh karenanya, kita patut bangga. Kita mendorong masyarakat masuk ke wilayah sektor yang memang sudah siap untuk dikerjakan,” kata Ardiansyah.

Lebih lanjut, Orang nomor satu di Pemkab Kutim itu men gaskan. Strategi diversifikasi ekonomi daerah difokuskan pada pengolahan komoditas non-tambang unggulan, seperti pisang, nanas, cokelat, vanili, aren, hingga lada. Produk-produk turunan dari komoditas ini dinilai mampu menembus pasar luar daerah hingga pasar internasional berkat kualitas bahan baku yang khas dan keterlibatan aktif masyarakat lokal dari hulu ke hilir.

Selain itu, Daya saing komoditas lokal Kutai Timur tercatat menunjukkan tren positif di berbagai pameran skala nasional dan internasional. Produk olahan kreatif seperti amplang batu bara dan minyak pijat tradisional, kata Bupati Ardiansyah sempat mencatatkan penjualan habis dalam ajang ICE Expo Tangerang, sementara produk kosmetik tradisional Bedak Lotong (Bilit) telah mendapatkan permintaan rutin dari pasar Tiongkok.

Guna menjaga keberlanjutan ekspansi pasar tersebut, Pemkab Kutim menggandeng OJK dan sektor perbankan untuk memperkuat pemahaman tata kelola keuangan serta kemudahan akses permodalan bagi para pelaku usaha.

“Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat melindungi UMKM dari risiko finansial sekaligus mempercepat proses modernisasi usaha masyarakat di Kutai Timur, pungkasnya. (Dh/Az/Adv)

 

Loading