SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) memberikan atensi khusus terhadap fluktuasi Indeks Perkembangan Harga (IPH) lokal, terutama komoditas cabai rawit beserta cabai merah yang menjadi kontributor dominan laju inflasi saat ini.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Sekretariat Kabupaten Kutim, Noviari Noor, menyebutkan walaupun tingkat inflasi wilayah secara keseluruhan berada dalam taraf terkendali kisaran 8,5 persen, lonjakan harga cabai pada pedagang tetap membutuhkan tindakan penanganan.

“Secara umum inflasi kita ini tergolong stabil dan berada pada tingkat yang aman. Namun, Indeks Perkembangan Harga yang berfluktuasi ini masih didominasi oleh cabai rawit dan cabai merah yang terus harganya memang cukup tinggi” ujarnya, saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.

Dirinya memaparkan, pergerakan harga cabai yang acap kali membumbung tinggi menuntut jajaran pemerintah daerah guna merumuskan skema intervensi yang terukur. Di samping itu, dirinya menegaskan, nstansi pemda tidak cuma bertumpu pada suplai dari luar daerah.

“Kita perlu mendorong program pendorong di tingkat masyarakat. Salah satunya adalah menggerakkan program menanam cabai secara mandiri di pekarangan rumah,” jelasnya.

Beliau menambahkan, aksi budidaya cabai cakupan rumah tangga tersebut dipandang sebagai jalan keluar efisien jangka pendek. Terlebih lagi, opsi ini dinilai sanggup memangkas ketergantungan publik atas patokan harga pasar yang terbilang tinggi.

Dirinya menganggap, bilamana kebiasaan pemenuhan bumbu masakan utama laiknya cabai merah serta cabai rawit sanggup dicukupi dari lahan sendiri, niscaya volume permintaan pasar dapat diredam sehingga nominal jual komoditas tersebut bertahap kembali seimbang.

“Langkah menanam cabai dan sayuran skala rumahan ini terus kita sosialisasikan. Pemerintah ingin memastikan ketahanan pangan warga tetap terjaga sehingga lonjakan harga cabai di pasaran tidak terlalu berat membebani daya beli masyarakat,” pungkasnya.(Dh/Az/Adv).

Loading